Thursday, December 22, 2011

Organisatoris VS Ansos



Organisatoris atauu Ansos???
Ansoos ansooooss….
Di kampus Its, kita pasti mengenal istilah KUPU-KUPU dan KURA-KURA. Bagi yang belum familiar dengan istilah tersebut, kupu-kupu adalah kuliah pulang kuliah pulang, yang identic dengan ansos atau anggota study oriented student. Sedangkan kura-kura merupakan sebutan lain dari organisatoris yang notabene  pulang kuliah langsung rapat, atau kuliah rapat kuliah rapat. Kedua tipe mahasiswa ini jelas sangat bertolak belakang.

Lalu. Apakah esensi dari lahirnya tipe-tipe tersebut? Termasuk golongan manakah kita?
Kita sebagai masyarakat demokratis tentunya memiliki pilihan yang bebas untuk menentukan kita masuk kedalam golongan yang mana. Untuk itu, perlu penjelasan untuk mengetahui manfaat-manfaat apa saja yang bisa kita peroleh bila kita menjadi salah satu dari masing-masing tipe.

Yang pertama adalah organisatoris. Dengan menjadi seorang organisatoris, kita memiliki kesempatan besar untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, bekerja sama, menetapkan tujuan yang sama, memahami watak orang lain, menambah pengalaman dibidang keorganisasian yang mempunyai aturan mengikat sehingga kita dapat dengan mudah menyesuaikan diri di lingkungan kerja kelak. Kelebihan yang dimiliki organisatoris ialah mereka memepunyai banyak relasi yang akan sangaat membantu ketika kita mengalami kesulitan sperti dalam contoh, kesulitan mencari pekerjaan. 

Kekurangan dari si kura-kura ini ialah, mereka seringkali membutuhkan waktu ekstra untk kegiatan superpadat diluar kegiatan kampus. Otomatis, bila  manajemen waktu belum bisa kita taklukkan, maka kuliah terbengkalai, IP jeblok dapat menjadi kenyataan pahit. Tidak bisa kita terus menerus memetingkan kegiatan organisasi diluar kuliah sementara kuliah kita menjadi prioritas kedua. Mahasiswa juga memiliki kewajiban untuk kuliah, dan tak dipungkiri pula kuliah menjadi modal kita untuk terjun ke dunia pekerjaaan nantinya.

ANSOS…. Tipe seperti ini, sangat-sangat anti organisasi. Ia menghabiskan hidupnya selama menjadi mahasiswa dengan belajar dan hanya kuliah. Ia memiliki IP yang luarbiasa tinggi dan memiliki bekal akademis bagus untuk dunia kerja nantinya. IP bagus juga membuka banyak sekali peluang baginya untuk memperoleh beasiswa baik dalam atau keluar negeri, ia juga memiliki keinginan untuk berprestasi di berbagai macam lomba dan mengikuti seminar-seminar untuk menambah skem. 

Kekurangannya, jelas mahasiswa tipe ini menjadi individualis, kurang bergaul dan memilikii pengalaman minim dalam berorganisasi. Hardskill yang dia peroleh di perkuliahan tidak akan cukup tanpa andil softskill dalam terjun ke masyarakat nantinya. Oleh karena itu, mengapa kebanyakan orang berprestasi di perguruan tinggi gagal dalam pekerjaan (yang dimaksud ini adalah, tidak sesukses orang lain) .

Nah, mana yang harus kita pilih? Softskill tanpa hardskill akan lemah, namun hardskill tanpa softskill akan pincang. Tentu, jawabannya adalah, kita harus menjadi mahasiswa yang bisa memanajemen dirik kita agar memiliki kedua skill tersebut. Karena, untuk bisa berkontribusi dan sukses ketika terjun ke masyarakat nanti, kita pasti akan membutuhkan keduanya.

No comments:

Post a Comment