Interpersonal Skills.... Mengapa Dibutuhkan??
Mata Kuliah Keterampilan Interpersonal alias KI, bisa dibilang sebagai salah satu keunikan jurusan tercinta Sistem Informasi ITS. Bagaimana tidak, mana ada mata kuliah yang isinya bermain game diluar kelas dan mendapat tugas membuat sendratari untuk final project tengah semester? Walaupun ada, pasti bukan anak-anak kategori diatas tujuhbelas tahun yang menikmati pelajaran tersebut. Di Surabaya, memang sungguh ada.
Saya sebagai mahasiswa tahun pertama melihat matkul ini (mata kuliah) begitu mengejutkan, very surprising. Yang tersirat dalam benak saya kala itu, yeah, that it is... Saya tidak mengatakan bahwa dua belas tahun (kecuali SD dan TK) mengenyam pendidikan tidak ada satu hal pun yang dapat saya ceritakan degan bangga sebagai suatu hal yang unik dan extraordinary. Actually, there are so many other thing which really worth to tell to anybody else. Tapi tentu saja, hal yang paling bombastis adalah mata kuliah keterampilan interpersonal.
Apa saja sih, kompetensi yang diajarkan di KI?? Banyak. Tujuan dari adanya matkul KI adalah untuk mengasah sekaligus mengembangkan softskill mereka. Termasuk apa saja sih softskill itu?? Banyak. Berbicara di depan umum, berpenampilan menarik, percaya diri, mampu bekerja sama dalam tim, manajemen waktu, menulis, semacam itulah softskill. Atau, dapat dikatakan, softskill merupakan kriteria mutlak bagi calon lulusan yang matang dan siap terjun ke dunia kerja.
Namun, hal ini justru menimbulkan banyak sekali kontradiksi. Banyak yang berpendapat, that’s really important, ini merupakan wadah kita untuk mengembangkan softskill disamping hardskill yang sudah pasti kita peroleh. Tapi banyak pula yang menentang seperti banyak dari yang saya dengar, buat apa sih mahasiswa main-main seperti anak SD, softskill kan bisa diperoleh dari mana saja, malahan justru akan lebih mengena. Saya sendiri tidak terlalu memusingkan berbagai pro dan kontra dari adanya diadakannya kuliah KI. Ada kuliah ini, bisa main-main meski agak terlihat unbelievable, that’s fine. Seandainya tdak, sebagai mahasiswa kita juga pasti berusaha mengasahnya karena banyak sekali wadah yang diberikan baik dari institut maupun dari luar, that’s okay. Intinya adalah bagaimana cara kita untuk bisa diterima dan bertahan kemudian sukses dalam lingkungan kerja nantinya.
Secara skeptis pasti banyak yang beralur demikian. Di satu sisi, untuk apa sih? Di sisi lain, ini penting! Berbagai pandangan terus mewarnai dari lahirnya KI hingga saat ini. Menurut pandangan saya, memang terlihat sepele, namun hal itu patut untuk diperhatikan. Tetapi fungsi dari tercapainya kompetensi itu juga selalu kita ambil yang sesuai (dalam hal ini bukan mengarah ke suatu hal negatif). Semisal, ada anak yang tidak terlalu percaya diri untuk tampil didepan umum. Tidak wajib bagi kita untuk memaksanya menjadi seperti anak lain yang sangat percaya diri tampil. Toh, meski begitu masih banyak cara untuk bisa sukses diantaranya melalui belakang layar, spserti menjadi penulis berbakat, penulis skrip, peneliti, dan lain sebagainya. Kita juga, tidak semua orang dididik untuk menjadi pekerja. Malahan saat ini sedang gencar-gencarnya pencetakan lulusan technopreneurship. Pekerja memang harus menguasainya untuk bisa sukses dalam pekerjaan, tapi apakah semua enterpreneurship begitu? Tidak semuanya bukan? Enterpreneur, berarti dia yang memutuskan, memilah, menetapkan apa saja yang harus ia lakukan untuk memajukan usahanya sebagai wujud kebebasan dan kemandirian mereka.
Tapi dengan adanya kuliah ini, kita bisa mendapatkan gambaran umum, setidaknya untuk skill yang benar-benar harus kita miliki dan asah. Hal ini kembali kepada diri masing-masing. Apakah kita bisa memanfaatkan suatu sarana yang cukup langka dan diberikan secara cuma-cuma untuk hidup kita atau memilahnya lagi. Hal ini patut diapresiasi pula, bila kita bukan orang yang terpaku sebagai organisatoris maupun sosialis, kita masih dapat mengasah kemampuan softskill. Just, take it all the way it is!
No comments:
Post a Comment