Friday, December 23, 2011

Empati Sosial


Beberapa waktu yang lalu, mata kuliah interpersonal kamui mengadakan kunjungan yang luar biasa. Kami diberi kesempatan untuk berkenalan lebih dekat kepada para penghuni panti sosial milik pemerintah. Kuliah kali ini sangat apresiatif, semua mahasiswa sangat antusias. Disana kami berkenalan dengan orang-orang yang secara umum bernasib kurang beruntung dari kami. Kebanyakan dari mereka mengalami gangguan jiwa, gelandangan dan pengemis serta pengamen jalanan dan orangorang terlantar. Awalnya kami merasa sangat canggung dan takut ketika mendekati dan berusaha mengajak mereka untuk berbicara.

Setiap kelompok mendapatkan lima atau enam "teman" baru yang akan dieksplor lebih dalam untuk lebih mengenali mereka. Sebagian besar sudah berusia paruh-baya, ada pula beberapa gadis remaja yang sepertinya "unik". Kelompok saya mendapat lima teman baru dengan empat remaja perempuan dan dua orang ibu-ibu.
 Kami memulai dengan perkenalan. Setelah memperkenalkan diri masing -masing, kami bertanya lebih dalam lagi tentang mereka, mengenai dimana tinggalnya, dari mana asalnya, mengapa bisa sampai ke liponsos. Awalnya cukup sulit karena mereka belum mau terbuka dengan kami. Tapi pada akhirnya mereka pun mulai terbiasa.Ditengah serunya berkenalan, tiba-tiba salah seorang ibu doi kelompok kami kambuh. Ia memang sedang sakit, tapi kami semua memakluminya bahkan pada saat dia mulai memperlihatkan kelakuan-kelakuan yang aneh. Kami sedikit terkejut karena baru pertama kali melihatnya, dan setelah itu ia dibawa kembali ke barak.

Saya berkenalan dengan salah satu anak perempuan yang baru masuk liponsos selama satu minggu. Dia menceritakan keluh kesahnya selama disana. Ia mengeluh tempat dan makanan yang diberikan. Kami mencoba mengorek lebih dalam lagi, karena sepertinya ia sedang mengalami permasalahan berat. Umurnya baru empatbelas tahun, ia diciduk oleh polisi karena ketahuan mengamen dipinggir jalan sewaktu malam hari bersama teman-temannya. Pertama ia agak kurang percaya dan berusaha menutup diri, namun perlahan-lahan ia mulai menceritakan satu persatu. Ia mengalami masalah keluarga yang membuatnya harus mencukupi kebutuhan dirinya sendiri karena sang ibu tidak mau/mampu memberinya uang saku. Mungkin ia ditelantarkan. Ia pergi bersama pacarnya untuk mencari uang degan mengamen. Hasil yang ia dapatkan diberikan kepada adiknya yang kini tidak tinggal lagi bersamanya. Ayahnya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya sejak tiga bulan yang lalu. Ditengah kesulitan dan cobaan yang dia alami, ia berusaha untuk tetap tegar meski dalam usianya yang terlampau dini. Saya dan teman-teman menasihatinya dan memberikan ia semangat karena ia masih sangat muda, masih banyak kesempatan dan mimpi yang bisa ia raih jika terus berusaha dan berdoa. Saya senang sekali bisa berbagi dengan mereka, memberi semangat dan mendoakannya. SEmoga kelak ia bisa meraih cita-citanya dan selalu dijaaolhe  Allat SWT

No comments:

Post a Comment