Pertamakali belajar bahasa mandarin beberapa bulan
lalu, ada banyak hal yang saya kagumi. Saya selalu mencintai hal-hal baru dan
unik, dan akan terus mencintainya. Mandarin adalah hal yang sangat baru bagi
saya, karenahal tersebut bukanlah lingkungan sehari-hari yang bisa saya temui,
meski hampir seratus persen teman-teman mengatakan hal sebaliknya.
Ketertarikan tersebut mengalahkan pandangan bahwa
mandarin adalah bahasa paling sulit untuk dipelajari. Benarkah begitu? Wah,
kalau soal bahasa, semuanya jelas memiliki keunikan tersendiri dan agar
menguasainya, tak dapat dengan sistem SKS. Hehe.... bukti paling konkrit yang
saya alami sendiri adalah bahasa inggris. Sejak kelas satu SD, atau TK malah,
hingga kini saya masih belum lancar karena tidak setiap saat mempraktekkannya.
Bicara bahasa, itu adalah masalah kebiasaan. Tak
ada hal yang dapat megalahkan kebiasaaan untuk memahami sesuatu. It means, semakin kita familiar dan akrab, semakin kita
mudah menguasainya. Begitu pula mandarin. Sebenarnya ada hal unik yang dimiliki
dan berbeda dari kebanyakan bahasa. Mandarin mengharuskan kita untuk
membiasakan nada pengucapan suatu kata. Salah nada, salah arti pula. Secara
umum ada empat jenis nada yang harus dikuasai dan dibedakan. Berbeda dengan
bahasa lain yang nadanya semau gue,
tidak akan mengubah arti meski diucapkan dengan nada yang berbeda. Mungkin
hanya akan mengubah kesan secara tak langsung.
Belum lagi pengucapan yang sedikit berbeda dengan pinyin atau tulisan latinnya. Ada
beberapa huruf yang tidak sama dengan kebiasaan kita menulisnya. Seperti
contoh, kata Ge tidak dibaca “ge”
seperti dalam bahasa indonesia, namun “ke”. Begitu pula sebaliknya, Ke dibaca “ghe”, bukan “ke”. Jadi ya sering keplicuk, hehe. Belum lagi membedakan
pelafalan Z dan Zh lalu C dan Ch karena selain dibolak balik seperti
Ke Ge, tebal dan tipisnya suara juga
sudah membuat arti kata menjadi berbeda. Fiuuuuuhh..
Tidak hanya suara saja yang bermasalah (hehe).
Jika dalam kebanyakan bahasa kita cukup menghafal beberapa huruf saja
(barangkali hanya puluhan), dalam mandarin kita wajib menghafalkan huruf dari
setiap suku kata. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kan? Lao shi saya mengatakan, untuk basic sehari-hari saja kita perlu
menghafalkan sekitar 2.000 hanzi atau
huruf mandarin. Iya kalau tulisannya simpel, ada pula satu huruf yang terdiri
dari belasan bahkan puluhan coretan. Bussseeeetttt.......
Jadi, ketika kita didikte, hal serius yang saya
alami adalah, pertama memikirkan tulisannya bagaimana, lalu nadanya, kemudian
artinya dan terakhir adalah hurufnya. Hmmm...
It’s really something.. Mungkin itulah
mengapa kita harus belajar sejak dini untuk belajar bahasa, apalagi mandarin.
Karena kita akan melatih banyak sekali motorik kita dalam sekali pendiktean.
Hahahaa...
Tapi, sesulit apapun, ketertarikan serta niat
adalah kunci utamanya. Niat dan tujuan menjadi kekuatan utama dalam mempelajari
bahasa. Dari tujuan tersebut, akan tercipta semangat, dan dari semangat kita
bisa mengalahkan pandangan negatif dari suatu hal setidaknya yang ada pada diri
kita.
Jadi
sulitkah?? Tidaak!! (amin)....
No comments:
Post a Comment