Friday, December 23, 2011

Alangkah Lucunya Negeriku


If it doesn’t kill you, it makes you strong

Dunia ini penuh dengan sandiwara, jika kita memandang yang salah sebagai benar  dan benar sebagai salah, dunia ini ibarat sandiwara tanpa hati nurani. Jelas telah digambarkan oleh Muluk dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini karya Dedy Mizwar. Ditengah keadaannya yang sulit sebagai seorang sarjana yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan, membuatnya berubah pikiran untuk menempuh jalan lain. Kita selalau memiliki pilihan, dan pilihan merupakan anugrah teragung yang Tuhan berikan kepada kita. Pilihan tersebut memberi kita kesempatan untuk berubah, menjadi lebih baik maupun buruk, atau bahkan stagnan. Namun tak ada sesuatu di dunia ini yang terus konstan. Dia hanya akan menjadi lebih buruk atau lebih baik. Berbagai pandangan yang merebak mengenai pilihan Muluk juga merupakan pertentangan itu sendiri. Seperti yang kita tahu, segala hal memilki resiko dan konsekuensi. Terlebih untuk mencapai sasaran yang diinginkan.
Pandangan orangtua Muluk dan sahabatnya mengenai penggunakan hasil copet untuk mendidik pencopet cilik bukan merupakan hal yang keliru. Suatu hal yang sangat tabu apabila di dalam tubuh kita mengalir darah yang tersuplai energi dari hasil uang haram. Namun apa daya, Muluk tak kunjung memiliki pekerjaan layak yang dapat memenuhi kebutuhan ia dan ayahnya. Begitu pula sahabatnya. Di sisi lain, jalan pintas sebagai penyantun para pencopet cillik juga perlu diacungi jempol. Ia memikirkan suatu hal yang membawa manfaat diluar kebiasaan orang-orang berpikir. Ia membuat anak-anak putus sekolah itu menjadi lebih mengerti makna hidup, dan hakikat mereka sebagai penerus bangsa. Menurut saya, hal itu sangat luar biasa.
Bagaimanapun semua hal memiliki konsekuensi baik maupun buruk. Hal itu tergantung bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan pelajaran dari hal yang buruk. Ketidakadilan tak berakhir sampai disitu. Setelah Muluk  berhasil merubah beberapa anak jalanan untuk tidak mencari uang dengan jalan haram, ia berhadapan dengan ketidakadilan pemerintah. Mengapa justru orang-orang yang berusaha sekuat tenaga mencari uang dengan cara halal hingga harus bertempur melawan panas terik dan jalanan untuk menjajakan barang halal yang terus diburu. Sedangkan para tikus berdasi yang rakus menggerogoti uang rakyat justru dibiarkan. Kita ini memang bodoh atau bahkan dibodohi?
Kita semua pasti memiliki akal sehat, memiliki pikiran,dan yang terpenting memiliki hati nurani. Dunia ini sungguh lucu apabila ketiga hal tersebut telah dibutakan oleh kekayaan, oleh pikiran yang haus akan kelimpahan harta. Tak ada yang adil di dunia ini, kecuali jika kita mau membuka mata kita terhadap keadilan. Lulusan seperti Muluk tak hanya ada satu dinegeri ini, namun ribuan! Coba kita pikirkan, apa yang harus kita lakukan kelak setelah lulus, apakah kita hanya akan menjadi sampah pengangguran ataukah kita akan berkontribusi terhadapa bangsa ini, sejalan dengan status kita sebagai orang-orang yang terdidik?
Diluar sana, masih banya orang-orang yang tidak mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan hingga sarjana. Menurut pandangan mereka, orang-orang yang bersekolah hingga perguruan tinggi adalah orang elit, orang-orang yang sangat diharapkan untuk bisa membawa perubahan besar bagi negeri kita yang sakit ini. Seperti kata Bung Karno, berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia. Bayangkan bila ribuan pemuda pemudi Indonesia, dapat memberi kontribusi yang besar bagi bangsa ini. Bayangkan pula, betapa besar beban dipundak kita untuk membawa bangsa ini menjadi ribuan kali lebih baik lagi.
We always have chance, if we care about it. We always have the same chance as everyone did, only if we always try hard to achieve it.

No comments:

Post a Comment