If it doesn’t kill you, it makes you strong
Dunia ini penuh dengan sandiwara, jika kita memandang yang
salah sebagai benar dan benar sebagai
salah, dunia ini ibarat sandiwara tanpa hati nurani. Jelas telah digambarkan
oleh Muluk dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini karya Dedy Mizwar. Ditengah
keadaannya yang sulit sebagai seorang sarjana yang sedang berjuang mendapatkan
pekerjaan, membuatnya berubah pikiran untuk menempuh jalan lain. Kita selalau
memiliki pilihan, dan pilihan merupakan anugrah teragung yang Tuhan berikan
kepada kita. Pilihan tersebut memberi kita kesempatan untuk berubah, menjadi
lebih baik maupun buruk, atau bahkan stagnan. Namun tak ada sesuatu di dunia
ini yang terus konstan. Dia hanya akan menjadi lebih buruk atau lebih baik.
Berbagai pandangan yang merebak mengenai pilihan Muluk juga merupakan
pertentangan itu sendiri. Seperti yang kita tahu, segala hal memilki resiko dan
konsekuensi. Terlebih untuk mencapai sasaran yang diinginkan.
Pandangan orangtua Muluk dan sahabatnya mengenai penggunakan
hasil copet untuk mendidik pencopet cilik bukan merupakan hal yang keliru.
Suatu hal yang sangat tabu apabila di dalam tubuh kita mengalir darah yang
tersuplai energi dari hasil uang haram. Namun apa daya, Muluk tak kunjung
memiliki pekerjaan layak yang dapat memenuhi kebutuhan ia dan ayahnya. Begitu
pula sahabatnya. Di sisi lain, jalan pintas sebagai penyantun para pencopet
cillik juga perlu diacungi jempol. Ia memikirkan suatu hal yang membawa manfaat
diluar kebiasaan orang-orang berpikir. Ia membuat anak-anak putus sekolah itu
menjadi lebih mengerti makna hidup, dan hakikat mereka sebagai penerus bangsa.
Menurut saya, hal itu sangat luar biasa.
Bagaimanapun semua hal memiliki konsekuensi baik maupun
buruk. Hal itu tergantung bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan menjadikan
pelajaran dari hal yang buruk. Ketidakadilan tak berakhir sampai disitu.
Setelah Muluk berhasil merubah beberapa
anak jalanan untuk tidak mencari uang dengan jalan haram, ia berhadapan dengan
ketidakadilan pemerintah. Mengapa justru orang-orang yang berusaha sekuat tenaga
mencari uang dengan cara halal hingga harus bertempur melawan panas terik dan
jalanan untuk menjajakan barang halal yang terus diburu. Sedangkan para tikus
berdasi yang rakus menggerogoti uang rakyat justru dibiarkan. Kita ini memang
bodoh atau bahkan dibodohi?
Kita semua pasti memiliki akal sehat, memiliki pikiran,dan
yang terpenting memiliki hati nurani. Dunia ini sungguh lucu apabila ketiga hal
tersebut telah dibutakan oleh kekayaan, oleh pikiran yang haus akan kelimpahan
harta. Tak ada yang adil di dunia ini, kecuali jika kita mau membuka mata kita
terhadap keadilan. Lulusan seperti Muluk tak hanya ada satu dinegeri ini, namun
ribuan! Coba kita pikirkan, apa yang harus kita lakukan kelak setelah lulus,
apakah kita hanya akan menjadi sampah pengangguran ataukah kita akan
berkontribusi terhadapa bangsa ini, sejalan dengan status kita sebagai
orang-orang yang terdidik?
Diluar sana, masih banya orang-orang yang tidak mendapat
kesempatan untuk mengenyam pendidikan hingga sarjana. Menurut pandangan mereka,
orang-orang yang bersekolah hingga perguruan tinggi adalah orang elit,
orang-orang yang sangat diharapkan untuk bisa membawa perubahan besar bagi
negeri kita yang sakit ini. Seperti kata Bung Karno, berikan aku sepuluh
pemuda, maka aku akan mengguncang dunia. Bayangkan bila ribuan pemuda pemudi
Indonesia, dapat memberi kontribusi yang besar bagi bangsa ini. Bayangkan pula,
betapa besar beban dipundak kita untuk membawa bangsa ini menjadi ribuan kali
lebih baik lagi.
We always have chance, if we care about it. We always have
the same chance as everyone did, only if we always try hard to achieve it.

No comments:
Post a Comment